Review Intel Sandy Bridge

Apa itu Sandy Bridge

Sandy Bridge merupakan perubahan terbesar yang dilakukan Intel sejak era Pentium 4, yang layak disebut jembatan ke dunia baru. Sebelumnya, prosesor tersebut dinamakan Gesher, yang dalam bahasa Ibrani berarti jembatan. Namun nama “Gesher” menjadi bermasalah karena pernah digunakan partai politik yang gagal di Israel. Intel pun memutar otak dan akhirnya memutuskan nama Sandy Bridge. Nama tersebut tidak mengacu kepada sebuah tempat, namun tetap merefleksikan visi dan misi Intel melalui Sandy Bridge: jembatan ke era baru prosesor. Performa melejit, konsumsi daya pun irit. Sandy Bridge adalah pembuktian paling mutakhir dominasi Intel di dunia prosesor.

Pembaruan paling penting adalah Sandy Bridge mewujudkan konsep fusion processor, alias prosesor yang menyatukan seluruh komponen ke dalam sekeping prosesor. Hal ini bisa dibilang puncak dari strategi “pindahkan semua komponen pendukung dari northbridge ke prosesor” yang dilakukan Intel sejak 2 tahun silam.

Pada generasi prosesor Bloomfield, mereka memasukkan memory controller. Pada Lynnfield, giliran PCI-E controller. Di era Clarkdale, gantian chip grafis onboard yang diintegrasikan ke dalam prosesor.

Namun beberapa komponen tersebut sesungguhnya masih terpisah di beberapa silikon—hanya “dirajut” saja ke dalam sebuah prosesor. Nah, hal itulah yang Intel rombak di Sandy Bridge. Seluruh komponen di dalam  prosesor Sandy Bridge berada dalam sekeping silikon, tidak ada yang terpisah-pisah lagi.

Dengan bersusah payah Intel mengumpulkan seluruh komponen ke dalam prosesor karena sistem kerja menjadi lebih cepat dan efisien berkat sistem saling terintegrasi seperti ini.

Analoginya mirip seperti kota mandiri ketika perumahan, kantor, rumah sakit, dan seluruh sarana hidup berada dalam satu area. Dengan hanya dengan “jalan” sebentar, seluruh data dan instruksi sudah sampai ke unit proses di dalam prosesor.

Di Sandy Bridge, perjalanan data bahkan semakin singkat karena seluruh unit berada dalam satu silikon. Apalagi Intel membuat interkoneksi alias jalan baru yang menghubungkan seluruh komponen, mulai dari chip prosesor, chip grafis, sampai cache.

 Interkoneksi yang disebut Ring Bus ini ibarat jalan tol untuk perjalanan data ke seluruh unit tersebut karena  memiliki kecepatan sampai 384 GB/s dengan latency yang minim.

Keuntungan lain dari sistem adalah penurunan konsumsi daya serta ukuran inti, apalagi dengan fabrikasi 32 nm yang digunakan Sandy Bridge. Performa melejit, konsumsi daya pun irit. Sandy Bridge adalah pembuktian paling mutakhir dominasi Intel di dunia prosesor.

Jika dihitung, Sandy Bridge dengan empat inti memiliki 995 juta transistor, namun ukuran die-nya hanya 216 mm2. Bandingkan dengan pendahulunya, Lynnfield, yang “cuma” memiliki 296 juta transistor, namun memiliki ukuran die 296 mm2.

Komponen-komponen di dalam silikon Sandy Bridge sendiri kurang lebih sama seperti Nehalem.

Yang pertama tentu saja inti prosesor. Pada Sandy Bridge generasi pertama ini, jumlah inti berjumlah 2 dan 4, yang disusul dengan generasi berikut yang memiliki 6 dan 8 inti. Masing-masing inti memiliki L2 cache sebesar 256 KB. Kerja L2 cache dibantu dibantu cache level 3 (L3 cache) yang dipakai bersama dengan ukuran bervariasi antara 3-8 MB (tergantung segmentasi). Sementara PCI Express, DMI, dan memory controller dan display interface berkumpul dalam satu area yang disebut System Agent.

Namun pengintegrasian tersebut juga menyisakan efek negatif. Pada era Nehalem, clock generator (yang mengatur frekuensi kerja komponen) bersifat individual. Maksudnya, ada clock generator untuk setiap komponen, apakah itu prosesor, memori, USB, SATA, dan komponen lain di motherboard. Jadi kita bisa melakukan overclock dengan mengatur frekuensi base clock (BCLK) dari setiap komponen tersebut.

Di Sandy Bridge, clock generator hanya satu dan mengatur frekuensi di angka 100 MHz untuk seluruh komponen. Alhasil, menaikkan frekuensi prosesor akan menaikkan frekuensi memori, SATA, dan komponen lain. Hal ini membuat overclock melalui BCLK menjadi sangat sulit. Kenaikan angka 5-6 MHz saja sudah akan membuat komponen USB dan SATA mogok bekerja.

 

Strategi Tick-Tock

Mikroarsitektur adalah sistem terkecil dari sebuah prosesor. Kalau prosesor adalah mobil, mikroarsitektur itu mesinnya. Dari “mesin” alias mikroarsitektur yang sama, bisa hadir prosesor untuk prosesor desktop, notebook, sampai server.

Sandy Bridge sendiri adalah periode Tock dari strategi Tick-Tock Intel. Jika Anda belum tahu, Tick-Tock adalah pedoman Intel untuk mengembangkan mikroarsitekturnya secara terpola. Tick adalah ketika Intel mengecilkan fabrikasi. Tock adalah ketika Intel membuat mikroarsitektur baru.

Pada tiap perubahan, Intel bisa mengeluarkan 1 sampai 3 keluarga prosesor yang biasanya ditandai dengan code name tertentu. Agar Anda tidak bingung, berikut adalah ritme ticktock sejak era pertama kali diperkenalkan, 2 tahun lalu.

Apakah berarti overclock menjadi mati? Tidak sih, cuma lebih terbatas. Satu-satunya cara adalah menaikkan multiplier prosesor. Sekadar mengingatkan, kecepatan prosesor adalah hasil kali multiplier dengan BCLK.

Namun perlu dicatat, sebagian besar prosesor Sandy Bridge multiplier-nya dikunci. Yang dibuka hanya prosesor Sandy Bridge dengan akhiran “K”, yaitu:

  • Core i5 2500K (4 inti, 3,3 GHz, tanpa HyperThreading)
  • Core i7 2600K (4 inti, 3,4 GHz, dengan HyperThreading).

Ketika Intel Belum Kapok

Intel sudah lama mempersiapkan Sandy Bridge, sehingga terlihat sangat siap saat awal Januari lalu merilis jajaran prosesor terbaru mereka. Total ada 29 prosesor yang mereka keluarkan, yang terbagi dalam segmen desktop (14 buah) dan notebook (15 buah).

Untuk Sandy Bridge versi desktop, Intel menyebut harganya berkisar antara US$100-300. Artinya, segmen yang ditempati prosesor baru ini adalah menengah ke bawah. Segmen teratas masih diduduki prosesor dengan soket LGA1366 (contohnya Core i7-975), dan mungkin baru digantikan tahun depan.

Penamaannya sendiri tetap mengikuti sistem Core i3/i5/ i7. Bedanya, prosesor Sandy Bridge menggunakan sistem 4 digit, sementara sebelumnya 3 digit. Angka pertama dimulai dari angka 2, karena Intel menganggap Sandy Bridge sebagai prosesor Nehalem generasi kedua. Selain itu, ada pula akhiran K, T, dan S.

Akhiran K menunjukkan fasilitas multiplier yang bebas (tidak dikunci). Sementara prosesor akhiran T dan S memiliki TDP yang lebih kecil, yaitu 65 Watt (seri T) dan 45 Watt (seri S).

Sekadar mengingatkan, prosesor Sandy Bridge “polos” dan K memiliki TDP 95 Watt. TDP yang kecil menunjukkan seri T dan S ditujukan untuk sistem terintegrasi seperti Home Theater PC, dan lebih banyak dijual untuk pembuat PC.

Jadi untuk segmen retail, pilihannya sekitar 8 prosesor desktop seperti bisa Anda lihat di tabel Pilihan Komplet.

Sebagai pegangan mudah, Sandy Bridge tipe Core i3 memiliki 2 inti, sementara untuk Core i5 dan i7 memiliki 4 inti. Namun perlu diingat kalau Core i5 seri Lynnfield juga ada yang 2 inti, sehingga pastikan Anda memilih prosesor Core i5 dengan 4 digit jika ingin menjajal Sandy Bridge.

Namun sejujurnya kami tidak bisa memberi panduan mudah menyangkut feature di dalam prosesor, seperti VT-x (Virtualization Technology), TXT (Trusted Execution Technology), maupun AES-IN (instruksi untuk membantu proses enkripsi/dekripsi file). Intel sepertinya belum “kapok” untuk memperumit sistem penamaan prosesor mereka.

Ambil contoh feature VT-x yang ada di Core i5-2400 namun tidak ada di Core i5-2300. Bayangkan: namanya mirip, namun feature di dalamnya berbeda. Jadi jika Anda membutuhkan salah satu feature tersebut, coba Anda cek di ark.intel.com untuk memastikan keberadaannya.

Turbo Boost 2.0

Sejak era prosesor Nehalem, Intel telah memperkenalkan feature Turbo Boost.

Sekadar mengingatkan, Turbo Boost adalah kemampuan prosesor untuk meningkatkan kecepatan di atas standar jika mendeteksi TDP dan panas prosesor secara keseluruhan masih di bawah ambang maksimal. Hal itu biasanya terjadi ketika prosesor menjalankan aplikasi yang single-threading (seperti game)—ketika hanya satu atau dua inti yang bekerja. Karena inti lain istirahat, yang berarti jatah dayanya tidak terpakai, prosesor secara otomatis akan meningkatkan kecepatan inti yang sedang bekerja.

Pada prosesor Sandy Bridge, Intel menerapkan Turbo Boost dengan pendekatan yang lebih agresif. Intel menyadari peningkatan panas di prosesor tidak terjadi seketika, melainkan bertahap sampai mencapai batas maksimal.

Nah, jeda waktu itu dimanfaatkan Turbo Boost 2.0 ini untuk memacu prosesor sekencang-kencangnya; bahkan di atas batas aman TDP. Barulah ketika panas prosesor mendekati batas maksimal, TDP diturunkan ke batas aman. Jeda tersebut berlangsung singkat, hanya sekitar 25 detik, namun efektif untuk menangani proses dengan beban kerja tinggi seperti proses loading Photoshop.

Turbo Boost 2.0 juga mengambil keuntungan dari skema satu silicon di Sandy Bridge. Kini, jatah daya dan panas yang tidak terpakai juga bisa dibagi untuk chip grafis. Jadi jika inti prosesor sedang beristirahat sementara chip grafis bekerja keras, chip grafis dapat mengambil jatah prosesor untuk meng-overclock dirinya.

Pilihan Sandy Bridge

Grafis Lebih Gahar

Chip grafis onboard Intel selama ini sering dianggap sebelah mata. Jika dibanding chip grafis AMD atau Nvidia, performanya terbilang jauh tercecer di belakang. Namun di Sandy Bridge, Intel seperti ingin menunjukkan kalau mereka juga bisa membuat chip grafis. Setidaknya, Sandy Bridge berambisi menjadi yang tercepat di kelas chip grafis onboard, bahkan memiliki performa yang setara dengan kartu grafis mandiri kelas low-end.

Secara arsitektur, sebenarnya tidak ada perubahan berarti karena chip grafis tersebut masih terdiri dari 12 execution processor. Namun karena sudah dibuat dengan fabrikasi 32 nm, kecepatan chip juga bisa mencapai 1,35 GHz. Yang perlu juga dicatat adalah chip ini mendukung Shader Model 4.1 dan DirectX 10.1. Memang belum mendukung DirectX 11, namun setidaknya lebih baik dari chip grafis era Lynnfield (yang disebut Intel HD).

Chip ini juga dilengkapi komponen khusus untuk melakukan decoding dan encoding format video populer seperti MPEG2, VC1, dan AVC. Sebenarnya Intel HD juga bisa, namun untuk melakukannya, Intel HD harus meminjam shader dari prosesor. Dengan kata lain, ia masih “ngerepotin” prosesor.

Nah, Sandy Bridge, telah menyediakan unit tersendiri untuk proses decoding itu sehingga bisa melakukannya sendiri. Enaknya lagi, karena unit shader prosesor menganggur, ia bisa digunakan untuk menangani pekerjaan video lain seperti pemberian efek.

Anda akan menemukan dua tipe chip grafis di Sandy Bridge, yaitu Intel HD Graphic 2000 dan 3000. Versi 2000—yang memiliki spesifikasi di bawah seri 3000—digunakan oleh semua prosesor Sandy Bridge kecuali seri K.

Sebenarnya pembagian ini agak membingungkan karena berarti Intel HD 3000 hanya digunakan oleh pengguna Intel Core Sandy Bridge versi K. Padahal seperti kami sebut di atas, pembeli seri K tersebut sepertinya overclocker yang mengejar fasilitas multiplier yang tidak dikunci. Mengingat overclocker adalah mereka biasanya rela membeli kartu grafis mandiri, maka seluruh kelebihan Intel HD 3000 jadi tidak termanfaatkan.

Sebaliknya, pembeli “biasa” yang kemungkinan besar menggunakan chip grafis onboard justru harus rela hanya menggunakan Intel HD Graphic 2000 yang lebih lambat. Sayang ya?

Platform Baru

Yang juga layak disayangkan, semua kelebihan di atas hadir dalam soket yang berbeda. Sandy Bridge menggunakan soket LGA1155, berbeda dengan soket LGA1156 yang digunakan prosesor Lynnfield. Meski beda cuma 1 pin, keduanya tidak kompatibel sehingga kita membutuhkan motherboard baru.

Ada dua chipset yang disediakan Intel untuk LGA1155 ini, yaitu Intel P67 dan H67. Spesifikasi keduanya nyaris sama. Bedanya, H67 mendukung sistem grafis onboard, sementara P67 untuk sistem dengan kartu grafis mandiri.

Saat ini sudah banyak motherboard pendukung prosesor Sandy Bridge di pasaran, seperti dari Asus, MSI, Gigabyte, Biostar, serta Asrock. Harga motherboard P67 sendiri sekitar Rp1,1 sampai 2,2 juta. Sementara harga H67 antara Rp1,3-1,7 juta.

 

Loncatan Kinerja

Untuk memberikan gambaran lengkap mengenai performa Core i7-2600K, kami membandingkannya dengan Core i7-870 dan AMD Phenom II X6 1100T. Core i7-870 adalah prosesor terbaik dari generasi Lynnfield dengan kecepatan 2,93 GHz. Sementara AMD Phenom II X6 1100T adalah prosesor terbaik AMD saat ini, dengan 6 inti dan kecepatan 3,3 GHz.

Hal pertama yang ingin kami ketahui adalah seberapa banyak perubahan mikroarsitektur di Sandy Bridge berefek pada peningkatan kinerja. Karena itu kami menguji wakil Sandy Bridge (Core i7-2600K) dan wakil Lynnfield (Core i7-870) pada kecepatan yang sama, 2,8 GHz. Dengan begitu, kita bisa melihat perbandingan performa keduanya secara clock-per-clock.

Hasilnya ternyata impresif. Jika menyimak tabel “Loncatan Kinerja”, Anda akan menemukan peningkatan yang terjadi bisa mencapai 24%. Peningkatan terjadi pada berbagai aplikasi, mulai dari aplikasi single-thread (dbPoweramp Music Converter), multi-thread (Sysmark 2007), sampai game (Stalker). Dari sini kita bisa melihat, perubahan mikroarsitektur di Sandy Bridge memberikan peningkatan kinerja yang cukup signifikan dibanding Lynnfield.

Tabel di bawah ini membandingkan kinerja Core i7-2600K sebagai wakil Sandy Bridge dengan Core i7-870 sebagai wakil Lynnfield. Dengan mengeset di kecepatan yang sama (2,8 GHz), kita bisa melihat persentase kenaikan performa yang cukup signifikan dari mikroarsitektur Sandy Bridge.

Keunggulan clock-per-clock ini menjadi semakin signifikan ketika kedua prosesor tersebut kami uji pada kecepatan aslinya. Pasalnya, Core i7-2600K memiliki kecepatan 3,4 GHz, sedangkan Core i7-870 kecepatannya 2,93 GHz.

Jika melihat tabel Dominasi Sandy Bridge, kita bisa melihat betapa signifikannya keunggulan Core i7-2600K. Dominasi prosesor ini semakin kukuh jika kita bandingkan dengan AMD Phenom X6 1100T. Meski prosesor AMD memiliki 6 inti, Core i7-2600K tetap unggul dengan selisih yang besar.

Hebatnya, dengan segala dominasi tersebut, konsumsi daya Core i7-2600K tetap lebih irit. Pada kondisi idle maupun beban penuh, konsumsi daya prosesor ini masih di bawah kedua prosesor pembanding. Inilah salah satu efek kebijakan “satu silikon” yang digunakan Sandy Bridge.

Dominasi Sandy Bridge

Di atas telah kita menyinggung usaha serius Intel memperbaiki performa chip grafis di dalam Sandy Bridge. Bagaimana hasilnya? Sangat menyakinkan. Kesimpulan tersebut tidak saja relevan saat membandingkannya dengan Intel HD, namun juga kartu grafis kelas low-entry, Nvidia GeForce 210.

Seperti terlihat di tabel Revolusi Grafis, Intel HD3000 berhasil mencatat hasil setara dengan GeForce 210 yang harganya sekitar Rp400 ribuan. Hanya pada pengujian World in Conflict, Intel HD3000 harus mengakui kekalahannya. Di pengujian lain, Intel HD3000 berhasil mencapai hasil sekelas bahkan lebih baik dibanding GeForce 210.

Melihat nilai fps, Intel HD3000 memang tidak bisa digunakan untuk memainkan game kelas atas yang kami gunakan dalam pengujian kali ini. Namun setidaknya, Intel HF3000 bisa menggantikan kartu grafis low-entry dari daftar belanja Anda.

Revolusi Grafis

Menggapai Obsesi

Seperti kami sebut di awal, overclock di Sandy Bridge relatif sederhana. Kita hanya perlu menaikkan multiplier tanpa harus mengotak-atik baseclock. Namun kesederhanaan tersebut bisa jadi merupakan “kabar buruk” bagi produsen motherboard. Pasalnya, peran motherboard di proses overclock kini tidak lagi penting—yang krusial adalah kualitas prosesor yang kita beli.

Sebelum bicara kualitas, akan dijelaskan sedikit soal mekanisme kerja prosesor Core i7-2600K. Prosesor ini memiliki kecepatan 3,4 GHz, jadi memiliki multiplier 34. Pada kondisi Turbo menyala dan seluruh inti mengalami beban penuh, multiplier prosesor ini masih bisa naik menjadi 35 (atau kecepatannya 3,5 GHz). Jika hanya satu inti yang aktif, multiplier-nya bisa melejit sampai 38. Di antara kedua kondisi tersebut, multiplier-nya bergerak antara 35 dan 38.

Prosesor yang diuji sendiri adalah Intel Core i7-2600K dengan batch L034B260. Saat dioverclock, prosesor ini bisa mencapai angka multiplier 40 alias mencapai kecepatan 4 GHz. Namun fasilitas Turbo harus dimatikan, karena jika dinyalakan akan menyebabkan ketidakstabilan sistem. Namun angka 4GHz terbilang impresif, dengan tidak mengotak-atik voltase prosesor.

Pada era Pentium 4 dulu, ketika Intel berobsesi menembus angka 4 GHz. Obsesi itu kemudian padam, seiring masalah panas yang menerpa prosesor Intel Pentium 4. Namun melalui Sandy Bridge, Intel berhasil menggapai obsesinya tersebut.

Kesimpulan

Melalui Sandy Bridge, Intel kembali membuktikan kekuatan prosesor mereka. Sederet pengujian yang dilakukan menunjukkan Core i7-2600K memiliki performa mengagumkan, setidaknya untuk prosesor di kelas US$300. Ia mengalahkan Core i7-870 yang menjadi jawara sebelumnya, dan jauh meninggalkan AMD Phenom II X6 1100T yang sesungguhnya merupakan prosesor terbaik AMD saat ini.

Performa yang mengagumkan juga diperlihatkan chip grafis HD3000. Dengan kemampuan setara kartu grafis entry-level, sistem berbasis Core i7-2600K memiliki performa yang komplit. Yang semakin mengesankan, seluruh keistimewaan tersebut disajikan dengan konsumsi daya yang rendah.

Jadi performa hebat, konsumsi daya irit. Sandy Bridge sungguh jembatan ke era yang berbeda.

Sumber: http://www.infokomputer.com/komponen/sandy-bridge

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: